Tentang Iman


Iman terdiri atas pengakuan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan pengamalan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dan bisa juga berkurang, bertambah dengan melakukan ketaatan, dan berkurang dengan melakukan kemaksiatan. Kekuatannya semakin bertambah seiring dengan bertambahnya ilmu, dan semakin melemah seiring dengan bertambahnya kebodohan. Iman bisa diperoleh semata-mata dengan taufiq dan hidayahdari Allah

Allah berfirman, “Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira,” ( QS. at-Taubah [9]: 124) “… dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat­Nya, bertambahlah iman mereka …,” (QS. al-Anfal [8]: 2) dan, “… supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman menjadi bertambah imannya ….” (QS. ,al Muddatstsir [74]: 31) Diriwayatkan bahwa Ibn Abbas, Abu Hurairah dan Abu ad-Darda’ berkata, “Iman itu bisa berambah dan bisa berkurang.” Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menyatakan bahwa

Iman itu bisa bertambah dan berkurangnya. Meskipun demikian, orang- orang Asy`ariyah tetap mengingkarinya.

Iman itu sendiri, secara etimologi berarti pengakuan hati terhadap sesuatu berdasarkan pengetahuan terhadap sesuatu tersebut. Sedangkan pengertian iman menurut definisi syari’at (secara terminologi) adalah pengetahuan tentang Allah serta sifat-sifat-Nya dan pengetahuan tentang segala yang diwajibkan, yang disunahkan, yang dianjurkan untuk dijauhi, dan yang dilarang-Nya, untuk diamalkan. Boleh juga dikatakan, “Iman adalah din(agama), syari’at, dan aturan.” Sebab din itu berisi ajaran-ajaran berupa perintah-perintah dan larangan-larangan yang harus diamalkan, dan itu merupakan sifat-sifat dari iman.

Adapun Islammaka ia adalah bagian dari iman, setiap iman adalah Islam, tapi tidak setiap Islam adalah iman. Sebab, Islam maknanya adalah IstIslam (berserah diri) dan inqiyad (tunduk). Setiap yang beriman (Mukmin) kepada Allah pasti berserah diri dan tunduk kepada-Nya, tapi tidak setiap yang berserah diri (Muslim) beriman kepada Allah, karena boleh jadi ia menjadi Muslim karena takut dibunuh. Iman adalah ungkapan dari apa pun yang tergolong ketaatan kepada Allah, baik berupa perbuatan maupun perkatan, sedangkan Islam adalah ungkap­an dari membaca dua kalimat Syahadat dengan hati yang tulus, lalu melaksanakan shalat lima waktu, zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah.

Imam Ahmad ibn Hanbal menegaskan bahwa iman itu bukanlah Islam. Ia menegaskan hal itu berdasarkan sebuah riwayat yang me­ngatakan bahwa Umar ibn al-Khaththab pernah bercerita:

Ketika suatu hari kami bersama Rasulullah, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat darinya bekas berjalan jauh, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Lalu, ia duduk di depan Rasulullah dan menyandarkan kedua lututnya ke lutut Rasulullah serta meletakkan tangannya di atas paha beliau. Setelah itu ia berkata, “Wahai Muhammad, ceritakanlah kepadaku tentang Islam!” Rasulullah menjawab, “( Islam itu adalah) bahwa engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Al­lah dan bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu.”anda benar”, kata laki-laki itu tiba-tiba. Kemudian ia berkata lagi, “Ceritakanlah kepadaku tentang Iman!” Beliau menjawab “(Iman itu adalah) bahwa engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, dan kepada qadar-Nya, baik qadar baik maupun qadar buruk.” “Anda benar,” kata laki-laki itu lagi. Kemudian ia meneruskan, “Ceritakanlah kepadaku tentang Ihsan!” Beliau menjawab, “(Ihsan itu adalah) bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa Ia melihat engkau.”Ceritakanlah ke­padaku tentang hari Kiamat!” tanyanya kembali. Beliau menjawab, “Sungguh orang yang bertanya lebih mengetahuinya daripada orang yang ditanya.” Ia meneruskan, “Ceritakan saja kepadaku tentang tanda-­tandanya!” Beliau menjawab, “(Di antara tandanya adalah) bahwa seorang budak perempuan melahirkan tuannya (anak durhaka kepada ibunya), banyak orang yang berpakaian tapi telanjang, dan para peng­gembala berlomba-lomba meninggikan bangunan-bangunan mereka.”

Aku menjadi terpaku sesaat menyaksikan kejadian tersebut. Tak lama setelah laki-laki itu pergi, Rasulullah berkata kepada kami, “Tahukah kalian orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahuinya.” Beliau berkata, “Orang itu adalah malaikat Jibril. Dia datang untuk mengajarkan kepada kalian tentang din (agama) kalian.” Dalam riwayat lain ditambahkan, “Setiap ia (Jibril) datang kepadaku dalam bentuk apa saja aku mengenalnya, kecuali dalam bentuk seperti tadi.”

Dalam hadits ini, Jibril membedakan antara Islam dan Iman dengan mempertanyakan masing-masingnya dalam satu pertanyaan. Nabi pun menjawab kedua pertanyaan itu dengan dua jawaban yang berbeda. Imam Ahmad ibn Hanbal juga berpedoman pada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa seorang Arab Badui berkata kepada Nabi

“Wahai Rasulullah, si fulan engkau beri sedang aku tidak.” Beliau bersabda, “Sebab fulan itu Mukmin.” Si Arab Badui menimpali, “Saya juga Mukmin.” Beliau menjawab, “Engkau masih Muslim; belum Muk­min.” Ia ( Imam Ahmad) juga berpegang kepada ayat Allah yang ber‑bunyi, “orang-orang Arab Badui itu berkata, Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka), ‘Kalian belum beriman, tetapi katakanlah, kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.” (QS. al-Hujurat [49]: 14)

Ketahuilah bahwa di samping menjalankan seluruh perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya, Iman baru akan ber tambah bilamana segala takdir, perbuatan, kehendak, dan janji-Nya terhadap makhluknya telah diterima dengan sepenuh hati, diyakini, dan tidak ragu sedikit pun. Iman tidak akan bertambah semata-mata karena melakukan shalat dan puasa saja, tanpa disertai dengan keyakinan seperti itu.

Rasulullah bersabda, “Iman itu mempunyai lebih dari tujuh puluh bagian, bagian paling utama dari iman adalah mengucapkan “La ilaha illallah (tiada Tuhan selain Allah), sedangkan yang paling rendahnya adalah membuang duri dari jalan.”

Janganlah seorang Mukmin mengatakan, “Aku benar-benar seorang Mukmin,” tapi katakanlah, “Aku, insya Allah seorang Mukmin.” Diriwayatkan bahwa Umar ibn al-Khaththab pernah berkata, “Barang­siapa yang mengatakan, “Aku benar-benar seorang Mukmin,” maka jadilah ia orang kafir. “Diriwayatkan juga bahwa seseorang berkata di dekat Abdullah ibn Mas’ud, “Aku benar-benar seorang Mukmin.” Lalu orang-orang yang mendengar ucapan itu bertanya kepada Abdullah ibn Mas’ud tentang hukumnya. Ia menjawab, “Tanyakan kepada orang itu apakah ia nanti akan masuk surga atau masuk neraka!” Mereka pun menanyakannya, dan orang itu menjawab, “Allahu A’lam (hanya Allah-lah Yang mengetahuinya).” Maka berkatalah Abdullah ibn Mas’ud kepadanya, “Mengapakah tidak engkau gunakan jawaban ter­sebut ketika ditanya tentang imanmu?”

Adanya pelarangan seperti ini adalah lantaran seseorang tidak dapat menjamin apakah imannya itu benar di sisi Allah atau tidak, dan kalau memang benar, apakah imannya itu akan tetap bersamanya sampai matinya atau tidak, yang akan menentukan tempatnya nanti di akhirat, di surga atau di neraka. Oleh sebab itu, seharusnya seorang Mukmin senantiasa merasa khawatir akan kekurangan, bahkan kehilangan imannya, sekaligus berharap kepada Allah agar keimanannya itu selalu menyertainya sampai akhir hayatnya. Hendaklah ia selalu berbuat kebaikan selama hidupnya dan berhati-hati terhadap apa saja yang dapat merusak imannya. Sungguh, manusia itu mati dan dibangkitkan nanti di akhirat tergantung bagaimana hidupnya di dunia ini. Nabi SAW ber­sabda, “Bagaimana kalian hidup, seperti itu pulalah kalian akan dimati­kan, bagaimana kalian dimatikan, seperti itu pulalah kalian akan di­bangkitkan.”

Seseorang yang beriman (Mukmin), betapa pun banyak dosanya, baik itu dosa benar maupun dosa kecil, tidak boleh dikafirkan, baik ketika masih hidup ataupun setelah meninggal dunia. la tidak boleh di­kafirkan sekalipun meninggal dunia dalam keadaan belum sempat bertobat kepada Allah, dengan syarat sebelum  meninggal dunia itu ia masih dalam keadaan bertauhid (mengakui Allah sebagai Tuhannya) dan ikhlas (pengakuan itu benar-benar dari lubuk hatinya, bukan berupa paksaan). Urusannya diserahkan sepenuhnya kepada Allah, jika Ia berkehendak, Ia ampuni dosa-dosanya lalu Ia masukkan ke dalam surga-Nya. Sebaliknya, jika Ia berkehendak tidak diampuni-Nya lalu dimasukkannya ke dalam neraka-Nya. Bagaimana kesudahan (nasib) orang itu nantinya, hal itu adalah wewenang Allah SWT semata untuk memutuskannya, yang tidak berhak selain-Nya untuk mencampurinya. Selama Dia sendiri tidak memberitahukan kepada kita tentang ke­sudahan seseorang, selama itu pula kita tidak dibenarkan memutuskan kesudahan orang tersebut.

Di samping itu, orang Mukmin yang dimasukkan Allah SWT ke dalam neraka lantaran dosa besarnya tidak akan kekal di dalamnya, suatu saat ia akan dikeluarkan-Nya dari neraka itu. Sebab neraka baginya seperti penjara di dunia ini hanyalah tempat persinggahan yang lamanya tergantung kadar perbuatan dosa yang dilakukan sewaktu di dunia, yang pada akhirnya ia akan keluar dari tempat itu dengan rahmat Allah SWT. Selama berada di neraka itu, wajah dan seluruh anggota sujudnya tidak akan disentuh oleh api, sebab hal itu diharamkan-Nya bagi api tersebut. Tidak ada yang dilakukannya berada di dalamnya me­lainkan berharap dan bermohon kepada Allah agar ia dikeluarkan darinya, sampai akhirnya Allah mengeluarkannya lalu memasukkannya ke dalam surga. Di surga, ia akan mendapat derajat yang sesuai dengan amal kebajikannya selama di dunia.

Seorang Mukmin haruslah meyakini qadha’ dan qadar Allah, baik yang baiknya maupun yang jelek, dan yang manisnya maupun yang pahit. Ia harus meyakini bahwa apa pun yang akan menimpanya tidak akan dapat dielakkannya, sebaliknya apa pun yang bukan jatahnya, tidak akan dapat diraihnya. Ia harus meyakini bahwa apa pun yang telah dan yang akan terjadi, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak, semuanya adalah atas qadha’ dan qadar Allah SWT, tiada seorang pun yang bisa lari ketentuan dan keputusan-Nya yang telah dituliskan-Nya dulu di Lauh Mahfuzh. Dia harus yakin bahwa betapa pun seluruh makhluk bersatu berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan suatu nikmat atas kebaikan padanya, mereka tidak akan mampu melakukannya selama rencana itu berada di luar ketentuan Allah. Sebaliknya, betapa pun mereka bersatu berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan suatu bala atau kejahatan kepadanya, mereka juga tidak akan mampu melakukannya selama rencana itu berada diluar ketentuan-Nya.

Allah SWT berfirman, “Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Yunus [ 10]: 107)

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya proses penciptaan manusia di dalam perut ibunya adalah selama empat puluh hari berupa nuthfah (paduan antara sperma dan sel telur), kemudian selama itu juga berupa ‘alaqah (segumpal darah), kemudian selama itu juga berupa mudhghah (segumpal daging). Setelah itu, Allah mengutus malaikat untuk me­netapkan empat perkara baginya, bentuk penciptaannya, rezekinya, amalnya, dan celaka atau bahagianya. Sungguh, andaikan seseorang telah melakukan amalan ahli neraka sampai-sampai tidak ada lagi jarak antaranya dengan neraka itu melainkan hanya sejengkal (saking ba­nyaknya dosanya), namun ketetapan Allah di dalam kitab-Nya berbicara lain, maka ia akan melakukan amalan ahli surga sehingga ia pun masuk ke dalamnya (tidak jadi masuk neraka). Sebaliknya, andaikan seseorang telah melakukan amalan ahli surga sampai-sampai tidak ada lagi jarak antaranya dengan surga itu melainkan hanya sejengkal (saking banyaknya pahalanya), namun ketetapan Allah di dalam kitab-Nya berbicara lain, maka ia akan melakukan amalan ahli neraka sehingga ia pun ma­suk ke dalamnya (tidak jadi masuk surga).” (HR. Zaid ibn Wahab dari ‘Abdullah ibn Mas’ud)

Dalam riwayat lain, beliau SAW menjelaskan, “Seseorang yang telah melakukan amalan ahli surga, namun di dalam kitab Allah tertulis bahwa ia adalah ahli neraka, maka menjelang akhir hayatnya, ia akan melakukan amalan ahli neraka, lalu mati dalam keadaan demikian hingga ia pun masuk ke dalam neraka itu. Sebaliknya, seseorang yang telah melakukan amalan ahli neraka, namun di dalam kitab Allah tertulis bahwa ia adalah ahli surga, maka menjelang meninggal dunia ia akan melakukan amalan ahli surga, lalu mati dalam keadaan demikian se­hingga ia pun masuk ke dalam neraka itu.”

Ali bin Abi Thalib menceritakan: Ketika kami duduk-duduk ber­sama-sama dengan Rasulullah SAW pada suatu kali, beliau membuat garis-garis diatas tanah, lalu berkata, “Tiada seorangpun kecuali telah diketahui tempatnya nanti diakhirat, apakah di neraka atau di surga.” Mereka (para sahabat) berkata, “Tidakkah hal itu membuat kita menjadi apatis (pasrah) wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Tidak. Akan tetapi, tetaplah kalian beramal, sebab segala sesuatu akan dimudahkan untuk tujuan penciptaannya.”

(sumber : Al-Ghuniyyah Li Thalibi Thariq al-Haq – Syekh Abdul Qadir Jailani)

Categories: AGAMA ISLAM | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: