Amalan Wirid Dalam Thariqat


CIRI khas amalan yang dilakukan para ahli thariqat adalah wirid dan setiap thariqat niscaya menekankan kepada jamaahnya untuk mengamalkan wirid yang intinya meliputi wirid istighfar, wirid shalawat dan wirid dzikir. Meskipun berbeda amalannya, namun intinya terdapat kesamaan yang menitikberatkan pada pelafadzan, pemahaman dan penghayatan istighfar, shalawat dan dzikrullah.

Tulisan berikut disarikan dari beberapa sumber diantaranya buku Tradisi dan Akhlak Pengamalan Tarekat karya Dr.Hj.U. Salamah dalam buku Mengenal Thariqah yang diterbitkan oleh Jamiyyah Ahli Al Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah.

Bahwa makna yang dikandung dalam wirid istighfar mengisyaratkan sebuah proses penghilangan noda dan karat kemaksiatan dalam jiwa dan menggantinya dengan nilai yang suci. Jiwa manusia dibersihkan dari berbagai niat dan perilaku yang bertentangan dengan ajaran dan perintah Allah SWT. Dengan istighfar berarti melakukan pemantapan dan peningkatan jiwa yang bersinergi dengan ampunan Allah yang merupakan sumber atau muara keselamatan dan kesusksesan.

Sedangkan wirid shalawat sebagai wujud dari cinta kepada Nabi Muhammad SAW dengan meluluhkan jiwa secara total kepada pribadi agung dan akhlak mulia Nabi. Membaca shalawat berarti menghadirkan nabiyullah Muhammad SAW pada pribadi dan ke dalam jiwa yang menembus batas ruang dan waktu dengan Nabi SAW sehingga menyatu dengan Allah. Shalawat bisa menjadi media bagi manusia yang berniat mendekatkan diri dengan Allah SWT. Shalawat juga berfungsi sebagai cahaya yang menerangi jiwa manusia dan membuang kegelapan dalam hati menuju rahasia ketauhidan.

Wirid dzikir yang di dalamnya merupakan kalimat tauhid mempunyai makna dan fungsi tertinggi di hadirat Allah. Kalimat tauhid menjadi unsur yang sangat efektif untuk mengantarkan manusia menghadap dan menyatukan diri dengan sang pencipta, sehingga berada sangat dekat dengan-Nya.Wirid dzikrullah menghujam jauh ke dalam jantung hati yang mengangkat manusia kepada kedekatan dirinya kepada Allah. Dalam hadist qudsi Allah berfirman: Laa ilaaha illallah adalah benteng-Ku, dan barangsiapa yang telah masuk ke dalam benteng-Ku, ia akan selamat dari kemurkaan-Ku. Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa fungsi dzikir dan pikir dalam kehidupan spiritual sama vitalnya dengan fungsi darah beserta urat-uratnya dalam kehidupan jasamani.

Proses pengamalan atas wirid-wirid tersebut, tidak lepas dari tahapan-tahapan yang akan membentuk tabiat atau maqamat.

Pertama, maqam al-nafs al-lawwamah, seorang murid dibimbing untuk mengetahui dan merasakan sifat-sifat nafsu lawwamah serta dilatih untuk menghilangkannya. Dengan latihan (riyadhat) menggunakan dzikir yang terus menerus pada pusat nafsu, latigat al-qalbi, maka murid akan meneruskan berbagai macam hal. Selanjutnya ia akan merasakan betapa sifat-sifat demikian adalah sangat tercela, sehingga ia insyaf dan sadar sepenuhnya untuk meninggalkannya. Diantara sifat-sifat itu sebagai berikut: al-laun (suka mencela), al-hawa (menuruti hawa nafsu / hedonistic), al-makr (menipu), al-gibatu (menggunjing), al-riya (pamer), al-zulmu (aniaya), ujub (bangga diri sendiri), al-kizb (dusta) dan al-ghaflat (lupa diri mengingat Allah).

Kedua, maqam al-nafs al-muhlimah, dengan bimbingan mursyid, di mana riyadhah dan mujahadah dilakukan sendiri, seorang murid akan mengalami perubahan karakter secara bertahap. Keberhasilan dalam maqam ini akan melahirkan maqam dalam arti akhlak atau tabiat yang baik, yaitu al-sakhwah (tidak kikir), al-qana’ah (menerima), al-hilm (arif), al-tawadhu (rendah hati), al-taubat (bertobat), al-shabr (sabar dan tahan uji), al-tahammul (kuat menahan derita).

Pengertian dzikir dimaknai sebagai metode yang paling efektif untuk membersihkan dan mencapai kehadiran Allah. Sesungguhnya ibadah lainnya pun sama menekankan pentingnya dzikir. Misalnya ruh doa ialah dzikrullah, tujuan puasa adalah membatasi seksualitas, tujuan ibadah haji adalah dzikrullah, kalau boleh penyusun menyimpulkan bahwa esensi perintah dan larangan Allah adalah dzikrullah. Dzikrullah bagi pikiran adalah suatu formulasi tentang kebenaran. Bagi kehendak ia adalah suatu perintah mengenai kebenaran, bagi jantung (hati) serta berbagai perpanjangan intuitif (ilhami) dari keyakinannya merupakan sintesis tunggal. Sementara dzikir dalam thariqah adalah bacaan Allah atau La ilaaha illallah. Dzikir dengan bacaan Allah, yang biasanya dilakukan di dalam hati, disebut dengan Dzikir Sirri atau Dzikir Khofi atau Dzikir Ismuz-Dzat, silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Sedang dzikir dengan bacaan La ilaaha illallah, biasanya dilakukan secara lisan, disebut Dzikir Jahri atau Dzikir Nafi Itsbat, silsilahnya sampai kepada Rasulullah SAW melalui Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Kedua jenis dzikir dari kedua sahabat inilah yang menjadi sumber utama pengamalan thariqah, dan terus menerus bersambung sampai sekarang.

Sedangkan di dalam thariqah ada juga yang disebut Talqinudz Dzikir, yakni pendiktean kalimat dzikir la ilaaha illallah dengan lisan (diucapkan) dan atau pendiktean Ismudz-Dzat lafadh Allah secara bathiniyah dari seorang guru mursyid kepada muridnya. Dalam pelaksanaan dzikir thariqah, seseorang harus mempunyai sanad (ikatan) yang muttasil (bersambung) dari guru mursyidnya yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Di dalam mentalqin dzikir, seorang mursyid dapat melakukannya kepada jama’ah atau perorangan. Hal ini didasarkan pada riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani yang menerangkan bahwa Rasulullah SAW telah mentalqin para sahabatnya, baik secara berjama’ah maupun perorangan.

Mursyid adalah sebutan untuk seorang guru pembimbing dalam dunia thariqah, ia talah memperoleh izin dan ijazah dari guru mursyid di atasnya yang terus bersambung sampai kepada Guru Mursyid Shahibut-Thariqah yang asal-muasalnya dari Rasulullah. Tugasnya untuk mentalqin dzikir / wirid thariqah kepada orang-orang yang datang meminta bimbingannya (murid). Dalam thariqah Tijaniyah menyebut mursyid dengan istilah muqoddam.

Sebaliknya istilah murid di dalam thariqah adalah sebutan yang diberikan kepada seseorang yang telah memperoleh talqin dzikir dari seorang guru mursyid untuk mengamalkan wirid-wirid tertentu dari aliran thariqahnya. Atau dengan kata lain orang yang telah berbai’at kepada seorang guru mursyid untuk mengamalkan wirid thariqah. Dalam thariqah Tijaniyah sebutan untuk para murid adalah ikhwan.

Adapun untuk melaksanakan dzikir di dalam thariqah terdapat tata krama yang harus diperhatikan, yakni Adab Berdzikir. Dalam kitab Al-Mafakhir Al-Aliyah fil Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan dalam fasal Adabudz-Dzikr, sebagaimana dituturkan oleh Asy-Syrani bahwa adab berdzikir itu banyak, tetapi dapat dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima) adab dilakukan sebelum berdzikir, 12 (dua belas) adab dilakukan pada saat berdzikir dan 3 (tiga) adab dilakukan setelah selesai berdzikir.

Lima adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah; 1) Taubat. 2) Mandi atau wudlu. 3) Diam dan tenang. 4) Menyaksikan dengan hatinya. 5) Meyakini dzikir itu dari Rasulullah dan syaikhnya sebagai naib (pengganti) beliau. Adapun 12 adab yang harus diperhatikan di saat melakukan dzikir yaitu: 1) Duduk di tempat suci seperti shalat. 2) Meletakkan kedua telapak tangan diatas kedua pahanya. 3) Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir. 4) Memakai pakaian yang halal dan suci. 5) Memilih tempat yang gelap dan sepi. 6) Memejamkan kedua mata. 7) Membayangkan pribadi guru mursyidnya. Jujur dalam berdzikir. 9) Ikhlas. 10) Memilih shighot Laa ilaaha illallah. 11) Menghadirkan makna dzikir di dalam hatinya. 12) Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah.

Sedangkan tiga adab setelah berdzikir adalah: 1) Bersikap tenang dan khusyu. 2) Mengulang-ulang pernafasannya berkali-kali. 3) Menahan minum air.

Selanjutnya tata cara dalam berthariqah yang meliputi syarat-syarat memasukinya, aturan bai’at dan pelaksanaan wirid, suluk, tawajjuh dan lain-lain yang berkaitan dengan amalan-amalan di dalam thariqah. Sebagai salah satu contoh, seseorang yang akan memasuki dan mengambil Thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah, maka dia harus melaksanakan kaifiyah atau tata cara sebagai berikut:

1.Datang kepada guru mursyid untuk memohon izin memasuki thariqahnya dan menjadi muridnya. Hal ini dilakukan sampai memperoleh izinnya.
2.Mandi taubat yang dilanjutkan dengan shalat Taubat dan shalat Hajat.
3.Membaca istighfar 100 kali.
4.Shalat Istikharah.
5.Tidur miring kanan menghadap kiblat sambil membaca shalawat Nabi sampai tertidur.

Setelah kelima hal itu dilakukan, selanjutnya pelaksanaan Talqin Dzikir / Bai’at dengan cara kurang lebihnya seperti tersebut di atas. Melakukan puasa dzir-ruh (sambil menghindari memakan makanan yang berasal dari yang bernyawa) selama 41 hari.

Baru setelah semua itu diamalkan, dia akan tercatat sebagai murid Thariqah Qodiriyah wan Naqsyabandiyah. Namun setelah menjadi murid thariqah ini, dia berkewajiban untuk mengamalkan wirid-wirid sebagai berikut:
a.Diawali dengan membaca sebanyak 3 kali: Ilaahii anta maksuudii wa ridhooka mathluubii, athinii mahabbataka wa ma’rifataka wa laahaula wa laa quwwata illa billahil aliyil adhiim.
b.Hadlrah Al-Fatikhah kepada Ahli Silsilah Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
c.Membaca Al-Ikhlas 3 kali, Al-falaq 1 kali dan An-Nas 1 kali.
d.Membaca shalawat ummy 3 kali: Allaahumma sholli alaa sayyidinaa muhammadin nabiyyil ummiyyi wa alaa aalihii wa shahbihii wa sallim.
e.Membaca Istighfar 3 kali: Astaghfirullah al-ghofuurrur rahiim.
f. Rabithah kepada Guru Mursyid sambil membaca: Laa ilaaha illallah hayyun baaqin, laa ilaaha illallah hayyun maujuud, laa ilaaha illallah hayyun ma’buud.
g. Membaca dzikir nafi itsbat (laa ilaaha illallah) 165 kali.
h.Kemudian dilanjutkan dengan membaca 3 kali lagi: Ilaahii anta maksuudii wa ridhooka mathluubii, thinii mahabbataka wa ma’rifataka wa laahaula wa laa quwwata illa billahil aliyil adhiim.

Menenangkan dan menkonsentrasikan hati, kemudian kedua bibir dirapatkan sambil lidah ditekan dan gigi direkatkan seperti orang mati, dan merasa bahwa inilah nafas terakhirnya sambil mengingat alam kubur dan kiamat dengan segala kerepotannya. Kemudian dengan hatinya mewiridkan dzikir Ismudz-Dzat Allah sebanyak 1000 kali.

Demikian selintas telah kita paparkan tentang amalan wirid dalam thariqat lengkap dengan tata krama dan bacaan yang harus diamalkan. Harapan kita ajaran thariqat ini dapat dijadikan acuan bagi kaum muslimin yang hendak mendalami lebih jauh tentang thariqat.

disusun dan didaur ulang oleh: Dicky Saputra

Mohon maaf kepada para peserta thariqat Qodiryah saya mohon bantuan kalau ada kesalahan agar diperbaiki … karena tujuan akhir dari penulisan makalah ini adalah untuk kepentingan bersama.

 

Categories: AGAMA ISLAM | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: